Pengikut

Minggu, 23 Juni 2013

MATERI DIALOG

DIOLOG

A. Menulis Dialog Sederhana

Pada pelajaran sebelumnya, kamu telah mengenal teks percakapan atau dialog. Keterampilan menyusun dialog dapat kamu kembangkan melalui kegiatan menulis cerita pendek atau drama. Dalam drama, misalnya, dialog merupakan unsur penting. Dialog akan mengungkapkan watak para tokoh atau
latar dalam cerita.
Berikut ini contoh dialog sederhana antara Butet, Sigit, dan Cut Rini. Mereka akan mewakili rekan sekelas mereka di Kelas V untuk membesuk Larasati di rumah sakit. Mereka membicarakan apa yang akan dibawa.
Sigit : ”Kita beli apa, Tet?”
Butet : ”Bunga dan buah-buahan saja. Setuju,
Cut?”
Cut Rini : ”Hm..., kita kasih uang saja.”
Butet : ”Kok, uang?”
Sigit : ”Maksudmu bagaimana, Cut?” 
Cut Rini : ”Larasati kan sedang sakit. Bunga
dan buah-buahan belum tentu dapat
dinikmati. Lagi pula, Larasati kan sudah
ditinggal ayahnya.”
Butet : ”Uang untuk apa?”
Cut Rini : ”Untuk tambahan beli obat. Dengan
begitu, ...”
Butet : ”Mudah-mudahan Larasati cepat
sembuh! Iya, kan?”
Arif : ”Iya, begitulah!”
Sigit : ”Wah, ide bagus itu, aku setuju!”
Ayo, Berlatih

1. Apakah yang direncanakan tiga anak SD tersebut?
2. Kesimpulan apakah yang diperoleh dari dialog mereka itu?
3. Mewakili siapa mereka membesuk Larasati di rumah sakit?
4. Mengapa mereka tidak memutuskan membawa bunga dan buah-buahan?
5. Apakah tujuan mereka membesuk Larasati?
6. Perankanlah teks dialog tersebut di hadapan kawanmu.


Mari, Mengenal Tanda Seru(!) dan Ungkapan Harapan

Tanda seru (!) dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan dan perintah. Pada contoh dialog sederhana di atas, tampak penggunaan tanda seru (!). Berikut cuplikan dialog tersebut.
Butet : ”Iya, begitulah!”
Sigit : ”Wah, ide bagus itu, aku setuju!”

Di samping itu, contoh ungkapan harapan biasanya ditandai dengan kata
semoga atau mudah-mudahan. Misalnya, tampak pada kutipan dialog berikut.
Butet : ”Mudah-mudahan Larasati cepat sembuh! Iya, kan?”
atau
”Semoga Larasati cepat sembuh! Iya, kan?”
Cut Rini : ”Iya, begitulah!”






Tugas untuk Kamu

Tulislah sebuah dialog sederhana antara empat tokoh. Topik pembicaraannya adalah rencana pembuatan jadwal piket membersihkan perpustakaan. Jangan lupa, gunakanlah tanda seru dan ungkapan yang mengandung harapan. Jika dialog sudah tersusun, perankanlah tokoh yang sesuai dengan karaktermu.








B Mari, Menanggapi
Penjelasan Narasumber

Kegiatan mendengarkan penjelasan dilakukan, misalnya, ketika terjadi wawancara. Dalam wawancara itu, kamu harus mendengarkan penjelasan narasumber dari awal hingga akhir. Sesekali, kamu boleh mengajukan pertanyaan kepada narasumber agar tidak timbul keraguan atas pokok pembicaraan.
Sering kamu mendengar penjelasan tentang suatu hal dari seseorang (petani, pedagang, nelayan, karyawan, ataupun dokter). Oleh karena itu, sebagai pendengar, ada berapa hal tentang narasumber yang perlu diperhatikan.
1. Melalui media massa apakah narasumber menyampaikan penjelasannya?
2. Siapakah tokoh yang menyampaikan penjelasan itu?
3. Apakah keahlian tokoh yang menjelaskan hal itu?
4. Hal-hal penting apa sajakah yang terungkap dari penjelasan itu?
5. Apakah kesimpulan dari penjelasan narasumber itu?
Perhatikanlah contoh penjelasan narasumber yang akan dibacakan oleh salah seorang temanmu. Simaklah baik-baik.
Nurul : ”Bulan November men datang dijadikan Bulan Imunisasi Polio. Kami ingin mengetahui apakah sebenarnya penyakit polio itu, Dok?”
Dokter Yudi : ”Penyakit polio adalah sejenis penyakit yang menyerang sumsum tulang belakang manusia, khususnya pada anak-anak usia SD.”
Danang : ”Apakah penyebab polio itu, Dok? Apakah akibatnya jika seseorang
terserang polio?”
Dalam contoh wawancara tersebut, Nurul berperan sebagai orang yang meminta penjelasan. Dokter Yudi menjelaskan hal-hal yang ditanyakan oleh Nurul. Danang menganggap penjelasan dokter belum jelas. Selanjutnya, dia meminta penjelasan tambahan.






Ayo, Berlatih

1. Dengarkanlah teks penjelasan narasumber berikut

Jika Perlu, Kerja Bakti Setiap Hari
Narasumber 1:
“Saya jadi ingat, ketika kecil dahulu diajari ibu untuk selalu membawa
kantong plastik kosong. Biasanya, saya menyimpannya di dalam tas. Jika
mengemil sambil berkendarat, sampah saya masukkan ke kantong plastik, termasuk gelas atau botol bekas air minum kemasan. Karena itu, saya heran, kok, ada orang yang tega membuang kemasan permen atau makanan ringan di lantai bus kota atau kendaraan umum? Lagi-lagi, mereka tidak menyadari bahwa lingkungan itu sebenarnya rumah besar mereka.”
Narasumber 2:
“Rasanya nyaman, ya, jika semua orang di lingkungan tempat tinggal kita menyadari pentingnya menjaga kebersihan.”
Narasumber 1:
“Betul. Pada hari-hari pergantian dari musim hujan ke kemarau ini, surat kabar
dan televisi masih diramaikan oleh beritademam berdarah. Bukan hanya Indonesia, negara tetangga se-Asia Tenggara pun sama. Yang dituding adalah nyamuk Aedes Aegypty. Padahal, si nyamuk tidak akan berkembang biak jika kita rajin menjaga kebersihan lingkungan. Misalnya, dengan bekerja bakti menguras-menutupmengubur (3M) tempat-tempat yang didiami nyamuk.”
Narasumber 2:
“O ya, saya jadi ingat. Selain itu kebiasaan lama, memelihara 1–2 ikan
kecil di bak mandi ternyata baik untuk memakan jentik. Meski keluarga saya
di rumah lebih suka cara ini: isilah bak mandi seperlunya, begitu kita mau
mandi saja. Dengan begitu, jentik tak punya tempat untuk berkembang.”
Narasumber 1:
“Kebiasaan menjaga kebersihan, sebaiknya memang dipelihara sejak
kecil. Jika tidak sempat belajar disiplin sejak kecil, pelajaran itu bisa dimulai
sejak sekarang. Misalnya, pernahkah kita perhatikan jeruk yang dijajakan dengan kemasan plastik? Plastik yang menjadi
pembungkus jeruk berguna untuk tempat kulit atau biji jeruk yang telah
dibuang Jadi, bukan sekadar hiasan atau pelindung jeruk dari panas matahari.”
Narasumber 2:
“Untuk menjaga kebersihan atau bekerja bakti membersihkan sampah di
sekitar rumah, tidak harus menunggu Hari Bumi (1 April) atau Hari Lingkungan
Hidup Sedunia (5 Juni). Jika perlu, kerja baktilah tiap hari.”

2. Setelah mendengarkan penjelasan dari narasumber, sekarang tulislah kembali pokok-pokok atau inti percakapannya. Kamu cukup menuliskan apa yang dibicarakan narasumber, mengapa hal itu dapat terjadi, apa sarannya bagi kamu, dan bagaimana tindak lanjutnya.
3. Berikan tanggapanmu terhadap penjelasan narasumber berikut.
a. Kebiasaan menjaga kebersihan sebaiknya memang dipelihara sejak kecil. Jika tidak sempat belajar disiplin sejak kecil, pelajaran itu dapat dimulai dari sekarang.
Tanggapan : .............................................................. .................................................................................. ..................................................................................
..................................................................................
b. Untuk menjaga kebersihan atau bekerja bakti membersihkan sampah di sekitar rumah, tidak perlu menunggu datangnya ”Hari Bumi 1 April” atau ”Hari
Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni”. Jika perlu, kerja bakti setiap hari.
Tanggapan : ..............................................................
..................................................................................
.................................................................................. ..................................................................................




Tugas untuk Kamu

Berdiskusilah dengan teman-temanmu mengenai topik berikut. Seandainya ada kawanmu yang sakit dan membutuhkan biaya, apakah yang akan kamu lakukan? Kemudian, adakah cara lain untuk membantu meringankan beban temanmu yang sakit itu? Ungkapkanlah pendapatmu.


Inti Pelajaran Ini

Dialog merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dalam suatu peristiwa. Dialog juga dapat ditemukan pada naskah drama. Kegiatan menanggapi penjelasan termasuk dalam kegiatan mendengarkan.

Manfaat Pelajaran Ini

Manfaat belajar menyusun dialog sederhana berguna dalam kehidupan kita. Kegiatan ini lebih baik lagi jika ditunjang oleh kegiatan mendengarkan untuk mencatat pokok pembicaraan. Dua keterampilan itu bermanfaat ketika kita akan membuat karya tulis, baik sastra maupun jenis tulisan lain. Kegiatan mana yang lebih menarik? Ungkapkanlah agar menjadi penyemangat belajarmu.

DONGENG

MATERI DONGENG

a. Dongeng dan Jenisnya
            Menurut Danandjaja  dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, meskipun banyak juga yang melukiskan kebenaran, ajaran moral, ataupun sindiran.
Antti Aarne dan Stith Thompson membagi jenis dongeng ke dalam empat golongan besar, yakni:
1)      dongeng binatang (animal tales)
2)      dongeng biasa (ordinary folktales)
3)      lelucon dan anekdot (jokes and anecdotes)
4)      dongeng berumus (formula tales)
Dongeng binatang merupakan dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Binatang-binatang itu biasanya terbatas pada jenis tertentu.
Di Eropa binatang itu adalah rubah (fox), di Amerika kelinci, di Indian Amerika sejenis anjing hutan (coyote), rubah, burung gagak, dan laba-laba, serta di Filipina adalah kera. Di Indonesia binatang itu adalah pelanduk (kancil) dengan nama Sang Kancil. Binatang-binatang itu semuanya mempunyai sifat yang cerdik, licik, dan jenaka. Lawan binatang cerdik adalah pandir, yang selalu menjadi bulan-bulanan tipu muslihat binatang cerdik itu. Di Amerika ada beruang, di Filipina buaya, dan di Indonesia adalah harimau.
Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka-duka seseorang. Di Indonesia, dongeng biasa yang populer bertipe “Cinderella”. Dongeng bertipe ini ada banyak. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat dongeng “Ande-ande Lumut” dan “Si Melati dan Si Kecubung”, di Jakarta terdapat dongeng “Bawang Putih dan Bawang Merah”, dan di Bali ada “I Kesuna lan I Bawang”.
Lelucon dan Anekdot merupakan dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan tawa bagi yang mendengar maupun yang menceritakan. Anekdot menyangkut kisah fiktif lucu pribadi seorang tokoh atau beberapa tokoh, yang benar-benar ada, sedangkan lelucon menyangkut kisah fiktif  lucu anggota suatu kolektif, seperti suku bangsa, golongan, bangsa, dan ras. Misalnya, kisah pendek lucu Albert Einstein disebut anekdot, sementara kisah pendek lucu orang Batak disebut lelucon.
            Dongeng-dongeng berumus merupakan dongeng yang oleh Antti Aarne dan Stith Thompson disebut formula tales, dan strukturnya terdiri atas pengulangan-pengulangan. Subbentuk dari dongeng berumus adalah: dongeng bertimbun banyak, dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak mempunyai akhir.
            Dongeng bertimbun banyak (disebut pula dongeng berantai) adalah dongeng yang dibentuk dengan cara menambah keterangan lebih terinci pada setiap pengulangan inti cerita. Di Indonesia berkembang lelucon yang bersifat penghinaan suku bangsa lain.           
Dongeng untuk mempermainkan orang merupakan cerita fiktif yang diceritakan khusus untuk memperdayai orang karena akan menyebabkan pendengarnya mengeluarkan pendapat yang bodoh.
Dongeng yang tidak ada akhirnya (endless tales) adalah dongeng yang jika diteruskan tidak akan sampai pada batas akhir.

b. Membacakan Dongeng
Membaca dan membacakan, secara sederhana dibedakan. Membaca lebih merupakan kegiatan pribadi untuk menemukan informasi tertentu dari kegiatan membacanya. Sementara membacakan merupakan kegiatan performansi, yakni bagaimana membacakan suatu teks kepada orang lain.
Untuk membacakan dongeng, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain:
1)      pilihlah dongeng yang baik (jika dongeng belum tersedia) dengan kriteria: topik menarik, topik sesuai dengan pembaca/pemain (dan juga bagi penonton/pendengar), bahasa yang dipergunakan sederhana dan mudah dipahami, dongeng tidak terlalu panjang,
2)      pelajari dongeng dengan seksama, baik yang sudah tertulis maupun yang masih berupa dongeng lisan,
3)      pahami karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng sebagai pijakan penentuan karakter vokal,
4)      berlatihlah berkali-kali, terutama membedakan karakter vokal sebagai narator (pencerita/pendongeng) dengan karakter vokal tokoh dalam cerita/dongeng,
5)      saat berlatih, usahakan ada salah seorang teman menjadi pendengar penuh yang berperan sebagai evaluator, dan
6)      komunikatif, artinya pembacaan yang dilakukan harus dapat menghidupkan dongeng sehingga mudah dicerna oleh pendengar.

c. Menjelaskan Isi Dongeng
Dongeng yang merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi sampai saat ini masih berkembang di sebagian masyarakat di Indonesia. Dongeng yang biasanya diceritakan oleh pendongeng (pencerita, dalang, tukang kaba, dan lain-lain) dan dalam perkembangannya juga dalam bentuk buku, terutama diperuntukkan sebagai hiburan. Namun demikian, di dalam dongeng akan kita jumpai (nilai-nilai) ajaran-ajaran tertentu tentang kebenaran, ajaran moral, ataupun sindiran.
Nilai-nilai itulah yang merupakan salah satu alasan mengapa dongeng masih terus hidup di masyarakat. Melalui dongeng, orang tua dapat mengajarkan hal tertentu yang dikehendaki. Jika orang tua tidak bisa dan atau tidak memiliki banyak waktu untuk mendongeng kepada anaknya, buku (dan sejenisnya) dapat membantu ke arah itu.